Setiap kali manusia menciptakan mesin yang mengubah cara kita bekerja, dua hal selalu lahir bersamaan: kekhawatiran, dan pembelahan kelas baru. Ketika mesin uap datang, lahir kelas pemilik modal dan kelas buruh. Ketika komputer datang, lahir kelas yang melek teknologi dan kelas yang tergantikan. Dan sekarang, ketika AI datang, Prof. Bagus Muljadi memberi nama bagi pembelahan yang jauh lebih fundamental:
Kelas yang bisa memberi tahu AI apa yang harus dipikirkan. Dan kelas yang bergantung pada AI untuk berpikir.
Kalimat itu bukan hiperbola seorang akademisi. Itu peringatan seorang matematikawan yang bekerja dengan model simulasi setiap hari — orang yang justru paling dekat dengan mesin, dan paling tahu batasnya. Dalam dialognya bersama Helmy Yahya, Prof. Bagus menawarkan sebuah kerangka berpikir yang, menurut saya, seharusnya menjadi bahan rapat pertama setiap lembaga pendidikan di Indonesia tahun ini.
“Either you capitalize on it, or you become a victim of it.”
PROF. BAGUS MULJADI — UNIVERSITY OF NOTTINGHAMPerhatikan ejaan kalimatnya: bukan victim of AI, tapi victim of it. Yang menentukan bukan teknologinya, tapi sikap kita terhadapnya.
Racun pertama: kebiasaan meng-outsource pikiran
Prof. Bagus menyebutnya post-colonial syndrome: kebiasaan sebuah bangsa menyerahkan pekerjaan berpikir ke pihak luar. Muncul masalah, kita bikin lembaga baru. Butuh peningkatan mutu, kita beli perangkat — laptop, Chromebook, infrastruktur. Semua kecuali satu hal yang paling menentukan: kualitas guru.
Dari riset Kementerian sendiri, katanya, masih ada guru SD yang tidak menguasai materi matematika yang dia ajarkan sendiri. Ini bukan soal niat — ini soal sistemik. Dan konsekuensinya berantai: guru yang lemah bahasanya melahirkan murid yang lemah berpikirnya, dan murid yang lemah berpikirnya akan menjadi konsumen yang paling rentan di era AI.
“Guru yang pintar dan inspirasional itu cuma butuh suara, pikiran, dan papan tulis.”
PROF. BAGUS MULJADIMengapa literasi bukan sekadar “gemar membaca”
Ini bagian yang paling sering salah dipahami. Ketika kita bicara literasi, yang kita bayangkan biasanya: akses buku, jumlah bacaan per tahun, pojok baca. Semua itu penting — tapi bukan inti.
Prof. Bagus meletakkan intinya di tempat lain: berpikir itu adalah berbahasa. Bukan “bahasa sebagai alat komunikasi”, melainkan bahasa sebagai bahan baku pikiran itu sendiri. Tidak ada pikiran yang lahir tanpa diverbalkan, sekurang-kurangnya kepada diri sendiri.
Dari premis itu, rantainya jadi jelas dan mengerikan:
- Bahasa yang ambigu membuat orang mudah salah mengasumsikan.
- Lebih parah: bahasa yang ambigu membuat orang mudah berbohong — dan setiap kebohongan mengorupsi model realitas di dalam kepalanya sendiri.
- Bangsa yang memaklumi bahasa ambigu, akan memaklumi institusi yang tidak akuntabel. “Saya kan enggak bohong, cuma ngomongnya enggak jelas.”
Menariknya, ada bias budaya yang memperparah ini. Dalam kultur pascakolonial, kata Prof. Bagus, orang yang berbahasa akurat tapi kompleks sering dianggap arogan, sementara yang berbahasa sederhana tapi tidak jelas dianggap elegan, adiluhung, polos. Kita menghukum ketelitian dan memberi penghargaan pada kekaburan. Itu racun yang bekerja diam-diam di ruang kelas, ruang rapat, dan ruang publik kita.
Dua pisau yang membedakan pahlawan dan korban
Prof. Bagus membagi dua kemampuan yang sering kita gabung jadi satu istilah, padahal berbeda:
Menguji apa yang benar (true) — faktual, lewat premis dan inferensi logis. Bahasa aslinya: matematika. Tidak ada “ya jelas lah”. Semua bisa dikuantifikasi.
Menguji apa yang patut (right) — moral, hierarki, otoritas. Berani bertanya: apakah guru saya bisa salah? Apakah atasan saya benar?
Yang belum bisa diimitasi AI: pengalaman otentik dan trust dari orang yang hidup dalam situasi tertentu. Bukan sekadar gudang informasi.
AI, menurutnya, jago mengimitasi perspektif orang dalam sebuah hierarki — ia bisa fasih menjelaskan kapitalisme, sosialisme, atau apa pun. Yang ia tidak punya adalah pengalaman otentik dan kepercayaan. Karena itu yang tersisa sebagai keunggulan manusia bukan kemampuan mengingat, tapi kemampuan mempertanyakan.
⚠️ Yang sebenarnya menghambat berpikir (bukan IQ)
Banyak orang mengaitkan daya berpikir dengan IQ atau gizi. Prof. Bagus menunjuk tersangka lain yang lebih jahat: feodalisme. Orang tidak akan berpikir analitik kalau ia belum siap dengan konsekuensi kesimpulannya. Kalau hasil analisisnya membuatnya mesti berbeda dengan atasan, guru, atau tokoh yang dihormati — apakah ia berani? Kalau tidak, berpikir menjadi teater.
Dan berpikir kritis menjadi senjata yang dipakai untuk membenarkan narasi yang sudah ditentukan lebih dulu. Yang ia sebut “critical thinking tanpa critical thinking”.
Datanya bicara keras
Lalu bagaimana posisi kita? Ini angka yang tidak nyaman dibaca, tapi harus kita letakkan di depan mata:
Skor literasi membaca Indonesia (PISA 2022) — peringkat ketiga dari bawah ASEAN, hanya di atas Filipina dan Kamboja. Turun 12 peringkat dari 2019.
Ketersediaan buku: satu buku untuk sebelas orang per tahun. Di sebagian perpustakaan, satu buku dipakai sekitar 90 orang.
Jumlah pengguna TikTok Indonesia — salah satu yang terbesar di dunia. Kita hebat sebagai konsumen, belum sebagai produsen.
Akses, tegas Prof. Bagus, bukan inti masalahnya. Zaman sebelum mesin cetak, buku sangat mahal dan hanya sedikit orang bisa membacanya. Setelah mesin cetak lahir, semua orang bisa membaca. Sekarang, era digital membuat akses nyaris gratis — tapi bersamaan dengan itu, daya konsentrasi kita memendek. Membaca satu buku utuh kini terasa seperti mukjizat.
Kalau begitu, apa yang menghambat? Ia menyebut dua lapis:
- Kualitas guru — terutama guru SD, karena di situlah fondasi literasi anak dibentuk sebelum usia 15.
- Identitas — akses itu satu hal, dorongan untuk membaca itu hal lain. Dorongan itu tumbuh dari kesadaran siapa leluhur kita.
Bagian yang paling menohok: identitas
Prof. Bagus menengarai adanya krisis identitas pada bangsa ini. Coba tanya seorang anak muda: siapa leluhurmu? Jawabannya seringkali kosong, atau bergurau — “Kabayan”. Padahal narasi historisnya tidak kosong sama sekali.
Sunda mengenal penguasaan bidang keilmuan tertentu — yurisprudensi, pertanian, tekstil. Sulawesi punya La Galigo, epos yang jauh lebih panjang dari Mahabharata, dan gagasan perwakilan demokrasi jauh sebelum Montesquieu menuliskannya. Yogyakarta mengenal pengetahuan tentang kerak bumi sebelum ekspedisi ilmiah dari Amerika membuktikan teori lempeng tektonik.
Semua itu bukan mitos; itu fakta yang tidak pernah kita narasikan dalam pendidikan kita. Akibatnya, ketika anak kita melihat buku, ia tidak melihat dirinya di sana. Identitas adalah bahan bakar yang membuat akses jadi bermakna.
Menghadapi AI: bukan menolak, bukan juga menyerahkan diri
Tentang AI secara langsung, jawaban Prof. Bagus tegas: You will — ya, AI akan mengurangi pekerjaan manusia, persis seperti setiap revolusi industri sebelumnya. Tapi pil pahitnya selalu sama: ada creative destruction. Profesi yang tidak bisa bersaing secara efisien akan hilang, sementara kemakmuran kolektif justru naik, karena manusia lain masuk ke lapangan kerja yang baru.
Yang justru lebih berbahaya daripada kehilangan pekerjaan adalah kehilangan kedaulatan epistemik. Ia menyebut contoh Albania, di mana sebagian fungsi pemerintahan sudah diserahkan kepada sistem AI. Bangsa yang terbiasa meng-outsource pikiran — ke konsultan, ke ahli, kini ke mesin — akan menjadi target empuk bagi siapa pun yang punya alatnya.
“Kalau kita terlalu terbiasa meng-outsource segala hal kepada AI, kita akan sangat rentan terhadap keputusan-keputusan sensitif. Dan kita akan menjadi sekadar konsumen.”
PROF. BAGUS MULJADIKarena AI adalah mesin narasi. Ia bisa memproduksi cerita tanpa batas, dan siapa pun bisa membuat AI mendukung ideologi apa pun. Tanpa pisau berpikir, orang akan punya lebih banyak bahan bacaan, tapi menjadi lebih bodoh — karena ia tidak bisa membedakan mana simulasi, mana realitas.
Prof. Bagus merujuk konsep simulacrum Jean Baudrillard: tahapan ketika representasi tidak lagi mewakili realitas. AI adalah puncaknya — ia bisa membuat gambar gelas tanpa ada gelas, gambar manusia tanpa ada orangnya. Di dunia seperti itu, satu-satunya alat deteksi adalah kemampuan analitis yang mengakar pada bahasa.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Tiga resep
🥇 Bahasa ada di urutan pertama — bukan coding
Di Inggris, kata Prof. Bagus, orang tidak terburu-buru mengajarkan AI dan coding. Mereka punya budaya trivium: logika, gramatika, retorika. Tiga hal ini diajarkan karena berbahasa dan berpikir adalah satu tindakan yang sama. Aceh, Tiongkok, India — semua warisan pengetahuan besar lahir dari penguasaan bahasa dan logika lebih dulu, baru alat.
🥈 Hidupkan kembali identitas leluhur
Bukan nostalgia, tapi strategi. Ada yang bertanya: apa persamaan motivasi orang Yahudi dan Tionghoa dalam mengejar ilmu? Keduanya punya kesadaran leluhur bahwa lapisan tertinggi masyarakat adalah kaum terpelajar. Mereka yang tidak punya memori itu, harus disusun kembali — dari local wisdom, dari naskah, dari cerita.
🥉 Jadikan kompetensi mata uang politik
Ini poin yang paling menyentuh ranah publik. Kata Prof. Bagus: inkompetensi membunuh jauh lebih banyak orang daripada kejahatan itu sendiri. Realitasnya bisa kita hitung — bencana yang diatributkan sebagai “tidak bisa dihindari”, banyak yang sebenarnya bisa dimodelkan, diprediksi, dan dimitigasi. Jujur dalam bahasa melahirkan institusi akuntabel; institusi akuntabel melahirkan meritokrasi; meritokrasi melahirkan mahasiswa yang berani berpikir. Urutannya tidak bisa dibalik.
Dan inilah bagian yang kita kerjakan di Cognitive AI Mastery
Kalau kita tarik semua ini ke praktik harian, ada satu kesimpulan yang sulit dibantah: AI bukan proyek alat, ia proyek kognitif. Menambah alat tanpa membangun cara berpikir hanya mempercepat jalan menuju kelas “konsumen”.
Karena itulah program 12 pekan Cognitive AI Mastery tidak dibuka dengan tools atau prompting, tapi dengan pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana kita berpikir, apa yang kita konsumsi, dan pengetahuan apa yang kita bangun. Yang kami kejar bukan sekadar penguasaan alat, tapi perubahan struktur berpikir di belakangnya.
Dan satu hal lagi: di dunia yang penuh simulasi ini, modal paling langka bukan informasi — melainkan kepercayaan. Itulah yang tidak bisa dikloning oleh mesin, dan itu pula yang tumbuh dari pergaulan, dari bimbingan, dari komunitas yang saling menumbuhkan.
“Don’t position yourself as a victim. Position yourself as a hero.”
PENUTUP — PROF. BAGUS MULJADINada akhirnya tetap optimistis. Prof. Bagus mengingatkan konsep Lindy effect: untuk hal-hal yang tidak bisa habis, semakin lama ia bertahan, semakin besar peluangnya untuk terus bertahan. Manusia, dan juga universitas, sudah melewati revolusi industri pertama, kedua, ketiga — dan masih ada. Secara probabilitas, kita juga akan melewati yang ini. Dengan satu catatan: ada biaya. Pilihannya tetap sama, capitalize atau menjadi korban.
Dan pilihan itu, untuk anak-anak muda yang membaca artikel ini, tidak dimulai dari mengganti aplikasi. Ia dimulai dari satu hal yang sepele dan pasca: berlatih mengatakan apa yang kita maksud, dengan tepat, setiap hari.